Hadirnya kembali lelaki itu kadang merubah kesendirianku. Lelaki itu selalu mengguatkan atau menakutkan ku dengan cara dia berucap atau menasehati aku. Aktifitasnya pun tak seberat wanita yg telah terikat olehnya. Meski sangat terbeban dengan keadaan yg kini menimpanya, Keadaan yg tlah ia pilih atau ini memang takdir ?
Lelaki itu sangat amat terlihat aneh seperti halnya aku. Walau kadang ku jenuh saat ia mengetuk pintu rumah tetapi aku senang pintu itu masih terketuk olehnya.
Pantaskah lelaki itu disebut ayah ?
Tergantung dari sudut mana melihatnya ..
dulu saat aku masih beranjak SD lelaki itu pernah memberikan aku sebuah mainan pistol pistolan. Senang aku saat itu walau ada keganjalan rasanya. Sebelum sebelumnya lelaki itu tak pernah memberikan aku layaknya sebuah hadiah. Diajaknya aku kerumah didaerah yg cukup dingin. Aku tak tahu itu pasti dimana. Aku hanya ingat andai saja aku masih lurus jalan kesana itulah tempat dimana aku dan saudara saudaku berlibur saat liburan sekolah tiba. Bermain sepatu roda, bermain sepeda, tapi yg paling aku suka bermain kartu remi. Karena aku selalu menang hingga wajahku masih terlihat bersih diantara saudara saudaraku. ( menghayal sambil cengengesan )
Tak lama kemudian ada seorang perempuan mencium kening pipi dan juga bibirku. Aku hanya bisa diam aku tak tahu itu ciuman apa. Tapi aku senang Karena dijamu dengan sangat baik oleh perempuan itu. Dibuatkan aku makanan setiap pagi, siang, hingga sore hari. Bahkan dipagi dan malam hari dibuatkan aku segelas susu serta makanan peneman susu pada malam hari. Diberikannya pun ku selimut tebal hingga rasa dingin yg menusuk tubuhku hilang secara perlahan saat mataku akan terpejam. Tak lama aku disana, setelah dua hari lamanya aku pun dibawa pulang. Saat itu aku masih tak mengerti ini semua apa maksudnya. Tapi itu dulu sejak aku masih beranjak SD dan sekarang aku sudah cukup dewasa tuk berfikir.
Masih pantaskah lelaki itu disebut ayah ?
Tak sering juga aku melawan kata, saat lelaki itu berucap. Wanita dan mereka pun bahkan lelaki itu juga diam. Hening sunyi saat itu benci aku harus melakukan itu semua. Lelaki itu hanya pergi lalu kembali, begitu saja yg ia lakukan dan terus diulang ulanginya, sehingga kesepian ini semakin pedih kurasa. Sudah lama lelaki itu tak memberi wanita itu nafkah, bahkan memberiku uang jajan pun tak pernah.. dan lain lainnya yg tak perlu ku katakan.
Masih pantaskah lelaki itu disebut ayah?
Dibalik semua peristiwa lelaki itu meneteskan air matanya saat kutentang semua ucapannya. Senang sedih bercampur saat kulihat tetesan dari wajah lelaki itu. Lelaki itu berkata ..
“ yg sudah sudah nak, ayah tau ini salah tapi bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur “.
Tak lama peristiwa itu terjadi, aku semakin aneh melihat lelaki itu. Sekarang ia sibuk mengurusi pekerjaan wanita itu dirumah. Ia menyapu dan mengepel bagian rumah yg terlihat kotor, ia mencuci piringnya sendiri kadang juga mencuci piringku dan semua yg bernafas dalam rumahku. Sebelum ada bibi dirumah ia pun menyetrika semua pakain yg menumpuk. Karena bibi hanya ditugaskan untuk mencuci pakaian. Kadang lelaki terlihat kesal dengan sikapku yg sangat cuek bila ia sedang melakukan itu semua. Diselang saat ia sedang melakukan tugasnya. Lelaki itu pernah berkata kepadaku ..
Lelaki itu sangat amat terlihat aneh seperti halnya aku. Walau kadang ku jenuh saat ia mengetuk pintu rumah tetapi aku senang pintu itu masih terketuk olehnya.
Pantaskah lelaki itu disebut ayah ?
Tergantung dari sudut mana melihatnya ..
dulu saat aku masih beranjak SD lelaki itu pernah memberikan aku sebuah mainan pistol pistolan. Senang aku saat itu walau ada keganjalan rasanya. Sebelum sebelumnya lelaki itu tak pernah memberikan aku layaknya sebuah hadiah. Diajaknya aku kerumah didaerah yg cukup dingin. Aku tak tahu itu pasti dimana. Aku hanya ingat andai saja aku masih lurus jalan kesana itulah tempat dimana aku dan saudara saudaku berlibur saat liburan sekolah tiba. Bermain sepatu roda, bermain sepeda, tapi yg paling aku suka bermain kartu remi. Karena aku selalu menang hingga wajahku masih terlihat bersih diantara saudara saudaraku. ( menghayal sambil cengengesan )
Tak lama kemudian ada seorang perempuan mencium kening pipi dan juga bibirku. Aku hanya bisa diam aku tak tahu itu ciuman apa. Tapi aku senang Karena dijamu dengan sangat baik oleh perempuan itu. Dibuatkan aku makanan setiap pagi, siang, hingga sore hari. Bahkan dipagi dan malam hari dibuatkan aku segelas susu serta makanan peneman susu pada malam hari. Diberikannya pun ku selimut tebal hingga rasa dingin yg menusuk tubuhku hilang secara perlahan saat mataku akan terpejam. Tak lama aku disana, setelah dua hari lamanya aku pun dibawa pulang. Saat itu aku masih tak mengerti ini semua apa maksudnya. Tapi itu dulu sejak aku masih beranjak SD dan sekarang aku sudah cukup dewasa tuk berfikir.
Masih pantaskah lelaki itu disebut ayah ?
Tak sering juga aku melawan kata, saat lelaki itu berucap. Wanita dan mereka pun bahkan lelaki itu juga diam. Hening sunyi saat itu benci aku harus melakukan itu semua. Lelaki itu hanya pergi lalu kembali, begitu saja yg ia lakukan dan terus diulang ulanginya, sehingga kesepian ini semakin pedih kurasa. Sudah lama lelaki itu tak memberi wanita itu nafkah, bahkan memberiku uang jajan pun tak pernah.. dan lain lainnya yg tak perlu ku katakan.
Masih pantaskah lelaki itu disebut ayah?
Dibalik semua peristiwa lelaki itu meneteskan air matanya saat kutentang semua ucapannya. Senang sedih bercampur saat kulihat tetesan dari wajah lelaki itu. Lelaki itu berkata ..
“ yg sudah sudah nak, ayah tau ini salah tapi bagaimanapun nasi sudah menjadi bubur “.
Tak lama peristiwa itu terjadi, aku semakin aneh melihat lelaki itu. Sekarang ia sibuk mengurusi pekerjaan wanita itu dirumah. Ia menyapu dan mengepel bagian rumah yg terlihat kotor, ia mencuci piringnya sendiri kadang juga mencuci piringku dan semua yg bernafas dalam rumahku. Sebelum ada bibi dirumah ia pun menyetrika semua pakain yg menumpuk. Karena bibi hanya ditugaskan untuk mencuci pakaian. Kadang lelaki terlihat kesal dengan sikapku yg sangat cuek bila ia sedang melakukan itu semua. Diselang saat ia sedang melakukan tugasnya. Lelaki itu pernah berkata kepadaku ..
“ takdir itu tak bisa diubah kecuali nasib sama halnya seperti watak dan sifat “
Aku senang saat lelaki itu selalu membangunkanku tuk menjalankan ibadahku sebelum matahari terbit. Mengingatkan ku tuk menjalankan ibadah saat adzan tlah berkumandang. Menawarkan ku saat ita hendak makan, membuatkan aku sarapan pagi walau tak setiap harinya. Mungkin ia pun tak sadar dengan sikapnya ia tlah memberiku arti hidup. Ia melakukan semua pekerjaan itu tanpa ada yg menyuruhnya, mungkin kesadaran yg mebangun semua itu. Sering ku berfikir pantaskah lelaki itu melakukan tugas tugas yg seharusnya wanita itu lakukan ? atau karena keadaan yg mengharuskan lelaki itu melakukannya.
Aku rasa lelaki itu masih pantas disebut seorang ayah
Aku senang saat lelaki itu selalu membangunkanku tuk menjalankan ibadahku sebelum matahari terbit. Mengingatkan ku tuk menjalankan ibadah saat adzan tlah berkumandang. Menawarkan ku saat ita hendak makan, membuatkan aku sarapan pagi walau tak setiap harinya. Mungkin ia pun tak sadar dengan sikapnya ia tlah memberiku arti hidup. Ia melakukan semua pekerjaan itu tanpa ada yg menyuruhnya, mungkin kesadaran yg mebangun semua itu. Sering ku berfikir pantaskah lelaki itu melakukan tugas tugas yg seharusnya wanita itu lakukan ? atau karena keadaan yg mengharuskan lelaki itu melakukannya.
Aku rasa lelaki itu masih pantas disebut seorang ayah
Dibalik semua kesalahan yg pernah kalian lihat dan alami ambil lah sisi positifnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar